‘KALA’ the Movie

April 27, 2007

Kala the Movie

Kala the Movie

Rabu malam kemarin, saya menonton Kala di bioskop bersama keenam teman sejurusan saya: Simon, Amudi, Andoko, Rika, Octa, Dibond. Ini adalah kali kedua saya menonton film Indo di bioskop setelah 9 Naga.

Pernahkah anda menonton sebuah film indonesia yang bergenre thriller fantasy dengan gaya noir? Tampaknya sudah jarang. Hadirnya film ini adalah sebuah alternatif dari konvergensi jenis film-film indonesia saat ini.

Begini ceritanya. Pada suatu waktu di sebuah kota dari negeri antah berantah yang sedang dipenuhi kekacauan, seorang polisi bernama Eros (Ario Bayu) tengah menyelidiki kasus kematian lima orang laki-laki yang dibakar oleh massa. Di tempat lain di kota tersebut Janus (Fahri Albar), seorang wartawan pengidap narkolepsi (british concise : Sleep disorder with sudden, uncontrollable spells of daytime sleep and disturbances of nighttime sleep) yang sedang dalam proses perceraian dengan istrinya (Shanty), meliput insiden tersebut untuk korannya (namun kemudian dipecat). Dalam upaya diam-diam mewawancarai salah satu istri korban, tape recorder Janus menangkap satu perkataan istri korban dalam bahasa jawa yang menggambarkan suatu tempat misterius. Tak lama kemudian perempuan tersebut mati menggenaskan tertabrak bis. Ketika akhirnya Janus bertemu dengan adik si perempuan, penyanyi kelab malam bernama Ranti (Fahrani). Janus diberitahu, perkataan dalam rekaman itu mengandung kutukan. Hanya satu orang yang boleh mengetahuinya. Kalau sampai ada orang kedua yang mengetahuinya, salah satu dari mereka harus mati. Korban telah jatuh, dan korban-korban lain siap menyusul.

Mengapa hal itu terjadi? Ternyata semua kejadian tersebut berkaitan erat dengan suatu ramalan dari raja Jayabaya tentang pengharapan akan hadirnya suatu sosok yang dinamakan Ratu Adil, sebagai penyelamat bagi bangsa yang sedang dilanda kekacauan, kekerasan, keserakahan, dalam situasi yang tidak menentu. Juga mengenai desas-desus harta karun yang disembunyikan presiden pertama. Melalui penyelidikan dengan dibantu teman kerjanya (August Melast), Eros akhirnya berhasil menguak sebagian misteri tersebut, tentang apa yang sedang terjadi dan keterkaitan keluarga Ranti dengan presiden pertama. Namun, itu juga berarti, bagi dirinya dan Janus, salah satu dari mereka harus mati. Sebelum malaikat maut menjemput, mereka hanya bisa menunggu pertolongan dari sang penyelamat, Ratu Adil yang dinanti-nantikan.

Joko Anwar, setelah komedi romantis segar Janji Joni, menggambarkan film keduanya ini secara cerdas. Keping demi keping teka-teki tersusun rancak, ketegangan demi ketegangan susul-menyusul, secara pelan tapi pasti menyingkapkan misteri. Yang jelas, berbeda dengan kebanyakan film Indonesia yang kelimpungan dalam urusan logika, Joko justru amat piawai dan ketat menata untaian sebab-akibat. Penonton dibuat penasaran sepanjang film, dan akhirnya tercenganglah mereka di ujung film.

Banyak hal-hal menarik yang menjadi nilai tambah film ini. Tata artistik dan sinematografinya, dengan penerangan yang minimal tapi optimal, secara menawan menampilkan sebuah kota yang gulita, pedih, dan menyimpan ancaman di sudut-sudutnya. Tampilannya mengingatkan pada kota-kota lama Indonesia pada masa kolonial saat penerangan masih menggunakan lampu gas. Kota antah-berantah itu juga belum mengenal telepon selular, namun toko eletroniknya memajang tumpukan televisi menyala di etalase, memungkinkan tokoh kita memantau sejumlah berita penting. Musik Score yang melingkupi sepanjang film terasa sangat pas dan mendukung dengan situasi dan kondisi yang sedang terjadi dalam film. Tata bahasa (dialog) yang digunakan dalam film ini juga terasa sangat beradab. Hal lain yang unik adalah adanya sosok makhluk gaib bernama Pindoro (entah apa artinya), yang pasti saya jadi teringat dengan smeagol di LOTR. Ia hanya penampakan dan tidak membunuh manusia, dan karenanya malah menebarkan teror yang lebih mencekam. Di sisi lain, ia menjadi pamomong bagi mereka yang patut dilindungi.

Yang menjadi sedikit persoalan adalah penggambaran tentang adanya kekacauan negeri tersebut yang terasa masih kurang dan beberapa adegan yang patut dipertanyakan. Selain situasi sepi, gelap, dan sunyi sewaktu malam, saya hanya melihat sebuah adegan sekumpulan massa memecahkan kaca jendela sebuah panti pijat, ketidak pedulian orang-orang di kota tersebut (adegan awal sewaktu Janus naik bis kota). Akan lebih baik jika penggambaran tentang kekacauan tersebut ditambah sedikit lagi.

Namun bagaimanapun secara overall Joko Anwar telah berhasil membuat sebuah film yang sangat menarik dan sangat cerdik. Ratu Adil yang akhirnya memang muncul benar-benar membuat kecele. Juga terkuaknya asal-usul tokoh-tokoh lain dalam cerita yang menurut saya benar-benar membuat film ini unik.

Kata-kata Pindoro ke Eros yang saya ingat (dalam bahasa Jawa) :
“Terimalah takdirmu Eros, kami telah lama menunggumu”

Kala telah menciptakan sebuah standar tinggi untuk film indonesia kedepannya, tidak hanya dari segi cerita, dialog, latar, costume & design, sinematografi, musik, namun juga aspek-aspek lain yang belum banyak dan belum berani dieksplorasi oleh para sineas indonesia saat ini. Anda pasti tahu apa makna sebuah standar.(sm)

8 Responses to “‘KALA’ the Movie”

  1. Dani Says:

    Keren juga ulasan film lo ko..
    Gw blom nonton niy, tapi berasa udah nonton setelah baca, Hehehe…

  2. johannah Says:

    Lebih berasa lagi kl lu uda nonton beneran dan..

  3. ending omega Says:

    hohoho… film fantasy bertemakan sejarah toh….
    gw pikir sejenis film ama yg dibintangin tamara dulu…

    kayanya kalo di sinema indonesia nih film dapet 4 bintang d.. :D

  4. Setiadi Says:

    ketauan yang baru dua kali ke bioskop… eh salah
    nonton film indo di bioskop, kekekeke :)

  5. johannah Says:

    Bukan begitu cup, maksudnya film indo yg gw tonton di bioskop baru dua…

  6. diBond Says:

    Hoee, km merhatiin filmnya sebegitunya ya Ko? Kirain km cuma asik makan pop corn doang. Hehe… Setuju, filmnya emg keren. Terutama pengambilan gambarnya. Mantab kali… Cuma sayang visual effect-nya minim bgt, di beberapa adegan sadis bukannya bikin kagum tapi malah bikin ketawa. Hoho…

  7. ndre Says:

    denger cerita lo kayanya ni film kudu ditonton. kapan rilis di rileks niy? ayo sm upload filmya!

  8. johannah Says:

    Ga tau deh, gw musti berpikir 2 kali untuk ngerilis nih film di rileks…sayang boo…


Leave a Reply